Hands-on: Razer Phone – Bezel Besar, Suara Besar, Ambisi Besar

Hands-on: Razer Phone – Bezel Besar, Suara Besar, Ambisi Besar

Akhirnya hadir. Razer Phone merupakan smartphone pertama besutan Razer dan bergabung bersama ekosistem produk periferal, sistem, dan software berorientasi gaming milik Razer yang terus berkembang.

Fokus terhadap gamer merupakan hal biasa jika berbicara keyboard, mouse, dan laptop, tapi bisa dibilang membingungkan jika memasukkan smartphone ke dalamnya. Mengapa ada pabrikan yang menyediakan smartphone bagi gamer saat hampir semua smartphone unggulan hadir dengan spesifikasi monster?

Tengok saja iPhone 8 dan iPhone X dengan chip A11 Bionic yang mampu mengungguli sebagian besar pesaingnya. Di sisi Android, setiap smartphone Android unggulan menggunakan prosesor Qualcomm Snapdragon 835 seperti yang diusung Razer Phone dan smartphone seperti Xiaomi Mi MIX 2 telah dilengkapi dengan RAM 8 GB yang menjadi kebanggaan Razer.

Sebelum masuk ke pembahasan lebih mendalam, berikut adalah spesifikasi singkatnya:

  • 5,72 inci 2560 x 1440 piksel 120 Hz Layar LCD IGZO
  • Snapdragon 835
  • RAM LPDDR4 8 GB
  • Kamera belakang: 12 MP f/1.75 wide, 12 MP f/2.6 zoom
  • Kamera depan: 8 MP f/2.0
  • 64 GB Universal Flash Storage
  • Baterai Li-ion 4000 mAh
  • 158,5 x 77,7 x 8 mm
  • 197 gram

Tidak diragukan lagi bahwa spesifikasi tersebut berada di kelas unggulan, tapi seperti yang disinggung di atas, tidak ada yang mengejutkan dari spesifikasi tersebut.

Bagaimanapun, Razer menyebutnya sebagai smartphone untuk gamer, oleh gamer, dan melakukan pengaturan performa agar sesuai dengan peruntukkannya. Menurut Razer, smartphone besutannya mampu mempertahankan frekuensi lebih tinggi dengan durasi lebih panjang berkat solusi pendingin yang memanfaatkan sasis aluminium smartphone sebagai heatsink.

Fitur unggulan dari smartphone ini ada pada layar LCD IGZO 120 Hz buatan Sharp. Razer Phone memang bukan smartphone pertama yang menggunakan layar dengan refresh rate begitu tinggi – beberapa smartphone Sharp Aquos dan iPad Pro tahun ini telah mengusungnya – tapi Razer mengatakan menjadi yang pertama yang mengombinasikannya dengan teknologi refresh rate dinamis bernama UltraMotion. Teknologi tersebut sebenarnya berbasiskan pada Qualcomm Q-Sync tapi dengan perubahan untuk pengintegrasian lebih kuat dengan game dan sejenisnya.

Smartphone saat ini biasanya memiliki refresh rate 60 Hz, sehingga layar 120 Hz merepresentasikan sebuah lompatan yang besar. Bisa dibilang refresh rate 120 Hz mampu memberikan perbedaan, bahkan hal sederhana seperti aksi scrolling saat menjelajah menu dan teks terasa lebih lancar.

Meski begitu, perbedannya tidak kentara dan perbedaannya tidak sebesar saat beralih dari monitor 60 Hz ke 120 Hz di desktop PC. Peningkatan tersebut juga berpengaruh terhadap game, tapi sulit untuk menentukan seberapa besar dampaknya terhadap peningkatan gameplay.

Tersedia pula opsi untuk memilih refresh rate sesuai keinginan. Razer Phone berjalan dengan refresh rate 90 Hz secara default yang kemungkinan demi menjaga daya tahan baterai. Tapi Anda bisa menyetingnya ke 60 Hz atau 120 Hz tanpa perlu me-restart smartphone.

Panel IGZO terlihat menyenangkan dan mudah digunakan. Tingkat kecerahannya terang meski tidak seterang layar OLED tertentu. Reproduksi warna juga terlihat cerah dan nyaman dipandang, namun tidak mampu menandingi intensitas layar OLED. Perbedaannya akan kentara saat Anda melihat warna hijau di Google Play Store.

Secara pribadi kami lebih menyukai warna dengan saturasi sedikit lebih rendah yang disajikan Razer Phone, tapi selera orang berbeda-beda. Kabar baiknya, tidak ada pergeseran warna yang kentara saat melihat layar dari sisi samping.

Segi desain, smartphone ini tampak serupa dengan model Sony Xperia yang mengusung desain kaku tanpa basa-basi. Bagi Anda yang jeli akan menemukan kesamaan dengan Nexbit Robin yang mengusung bahasa desain serupa dan sidik jari yang terintegrasi pada tombol daya.

Bagaimanapun, SVP Razer Tom Moss menyampaikan bahwa smartphone ini mengambil inspirasi desain dari laptop Razer Blade. Memang tidak sulit melihat kemiripannya saat menilik logo ular berkepala tiga berkelir chrome di bagian belakang smartphone. 

Meski demikian, dibandingkan dengan pesaingnya yang terlihat glamor menggunakan material kaca di bodi belakang seperti Samsung Galaxy Note8 dan iPhone X, Razer Phone nyaris terlihat membosankan. Bodi aluminium Razer Phone terasa solid dan meyakinkan serta bobot yang mantap. Razer Phone tergolong lebar, sehingga tidak terlalu nyaman saat digunakan dengan satu tangan.

Penampilannya terlihat polos dibandingkan dengan para pesaingnya, tapi ada kesan elegan dari sebuah kesederhanaan. Lapisan hitam matte juga tidak mudah dikotori sidik jari yang patut diapresiasi.

Beberapa orang mungkin akan keberatan dengan bezel tebal di bagian atas dan bawah layar karena sebagian besar smartphone unggulan di 2017 memilih desain bezel super tipis.

Tapi tidak seperti Google Pixel 2, bezel Razer Phone memiliki tujuan fungsional. Kedua bezel dilengkapi dengan speaker stereo yang menjadi salah satu fitur terbaik smartphone ini.

Setiap speaker digerakkan oleh amplifier dan lebih dari mampu untuk memenuhi ruangan dengan lagu. Suara yang dihasilkan terdengar kaya dan utuh, bisa jadi merupakan salah satu speaker smartphone terbaik di pasaran.

Tersedia pula dukungan Dolby Atmos yang menyediakan posisi audio lebih akurat. Tapi pengimplementasian Atmos ini lebih dioptimalkan untuk game, bukan untuk Netflix dan judul film yang mendukung Atmos karena lebih disiapkan untuk setup home theater.

Bukan hanya speaker yang ditingkatkan, Razer Phone menyediakan pula adaptor USB-C-to-headphone dengan sertifikasi THX. Sepertinya jack 3,5 mm bakal menghilang dan adaptor headphone menjadi sesuatu yang normal.

Adaptor Razer tersebut bukanlah adaptor biasa karena dilengkapi dengan DAC 24-bit untuk meningkatkan suara lebih baik pada headphone.

Bagaimana jika ingin bermain dengan headphone sekaligus mengisi ulang baterai 4000 mAh secara bersamaan? Razer sepertinya belum memikirkannya dan terasa kurang intuitif untuk sebuah smartphone untuk gamer tapi tidak bisa dengan mudah mengisi ulang sekaligus menggunakan headphone saat sesi gaming panjang.

Untungnya tersedia fitur Quick Charge 4+ yang menjadikan Razer Phone sebagai smartphone pertama yang mengusungnya. Razer mengatakan, smartphone besutannya bisa diisi ulang dari nol hingga 85 persen dalam tempo satu jam.

Untuk kamera, Razer tidak memenuhi harapan kami untuk sebuah smartphone unggulan. Ia menggunakan setup dual-kamera yang terdiri dari lensa sudut lebar dan telefoto dengan 2x zoom, tapi aplikasi kamera yang tersedia tidak menyediakan opsi kontro manual maupun filter kustom. Tidak ada OIS yang terintegrasi ke dalam kamera, Razer lebih memilih EIS (stabilisasi gambar elektronik).

Kamera juga tidak menyediakan fitur perekaman video gerak lambat dan mode portrait, tapi kabar baiknya fitur-fitur tersebut akan hadir melalui pembaruan software dalam beberapa bulan ke depan. Razer sepertinya merancang aplikasi kamera agar mudah digunakan, sehingga bisa menjelaskan minimnya kendali manual.

Meski demikian, satu hal yang perlu diperbaiki adalah pada kualitas gambar hasil tangkapan kamera. Selama periode waktu singkat saat mencobanya, kami terganggu dengan jeda yang kentara saat menekan tombol shutter dan saat smartphone mengambil gambar.

Misalnya, kami bersiap memotret jalanan kosong lalu menekan tombol shutter, tapi kamera perlu beberapa saat untuk mengambil gambar dan menangkap mobil yang seharusnya tidak tertangkap saat menekan tombol shutter. Hal tersebut terjadi dalam kondisi remang cahaya, kecepatan pemotretan meningkat saat di bawah kondisi pencahayaan memadai.

Tapi secara umum, kualitas gambar tergolong medioker sehingga kemampuan pemotretan sepertinya tidak menjadi sisi keunggulan smartphone ini.

Razer Phone mengusung sistem operasi Android Nougat 7.1.1 dan siap diperbarui ke Android Orea sekitar kuartal pertama 2018. Antarmukanya sangat bersih dan satu-satunya elemen antarmuka kustom hanya hal kecil seperti pengaturan tingkat kecerahan berwarna hijau di area notifikasi.

Hal lainnya yang kami sukai adalah ketersediaan Nova Launcher Prime secara default. Launcher tersebut merupakan versi Razer Edition dengan menu gelap dan ikon seting hijau, tapi bagian lainnya tetap Nova.

Dengan demikian tersedia banyak opsi kustomisasi dalam jangkauan dan Anda bisa mengkustomisasi ukuran grid pada home screen dan drawer aplikasi, mengganti ukuran widget dan ikon, serta memilih efek transisi.

Untuk sesuatu yang lebih sederhana, tersedia toko Razer Theme yang dipenuhi dengan theme siap pakai untuk game spesifik. Menerapkan theme dari sana akan mengganti wallpaper dan tampilan ikon sehingga menjadi cara cepat untuk berganti tampilan.

Secara umum, ini merupakan upaya yang memadai dari Razer. Smartphone ini tidak terlalu memikat di beberapa sisi, seperti kemampuan kamera. Untuk sebuah smartphone yang dirancang bagi gamer, Razer Phone hadir tanpa menawarkan hardware berperforma tinggi yang tidak dimiliki para pesaingnya. Tapi Razer Phone berupaya mengimbanginya dengan pengalaman audio dan visual memukau dan kerjasama strategis serta pengalaman Android standar.

Razer Phone akan berhadapan dengan LG V30, Samsung Galaxy Note8, dan Huawei Mate 10 Pro yang merupakan pesaing berat. Pada akhirnya, tawaran banderol yang diusungnya bisa mendongkrak daya tarik Razer Phone.

Harga dan ketersediaan.

Razer Phone ditawarkan dengan banderol US$699 dan akan tersedia 17 November di A.S., Kanada, Inggris, Irlandia, Jerman, Perancis, Denmark, dan Swedia. Para peminat di negera tersebut di atas juga bisa memesan Razer Phone melalui situs web Razer. Sebagai apresiasi kepada para penggemarnya, Razer hanya menyediakan 1337 unit model edisi terbatas dengan logo Razer berwarna hijau.

Belum ada informasi harga dan ketersediaannya di Indonesia.