Ulasan Fujifilm X100F

Penyempurnaan Rangefinder Saku

X100F adalah lini kamera saku premium dari Fujifilm. Kamera ini dilengkapi dengan sensor CMOS X-Trans III 24,3 MP dari kamera flagship X-Pro 2 dan X-T2 mereka, serta prosesor gambar berkinerja tinggi X Processor Pro, menjadikannya lebih unggul dibandingkan dengan X100T sebagai pendahulunya.

Contoh, jika X100T memiliki kecepatan continuous shooting 6 fps untuk detil maksimal 25 frame, kini X100F mampu memberikan kecepatan 8fps pada 60 frame. Kamera tersebut juga dibekali otofokus 325 titik yang dapat dipilih dalam mode otofokus tunggal, dan tuas AF yang pertama kali ada di X-Pro2. Hal ini membuat Anda lebih mudah mengubah titik otofokus, mengakses menu, dan mengubah ukuran grup fokus.

Mungkin karena fakta bahwa kini X100F menggunakan baterai yang sama seperti X-T2 (NP-W126S), kamera tersebut berukuran agak lebih tinggi dibandingkan dengan pendahulunya, dengan ukuran 126,5 x 74,8 x 52,4 mm dibandingkan dengan 126,5 x 74,4 x 52,4 mm pada X100T. Grip miliknya juga berukuran agak lebih dalam, tetapi perbedaannya tidak terlalu terasa.

Perubahan yang kentara adalah pergeseran tombol dan perubahan kontrol dial di atas kamera. Semua tombol di belakang X100F telah berpindah ke sebelah kanan LCD belakang, dengan tombol AEL/AFL dan tombol mode View bergeser ke atas bodi. Perubahan tersebut menggantikan tombol mode Drive, yang telah ditetapkan secara permanen ke atas tombol kontroler empat arah.

Anda masih disuguhkan total tujuh tombol kustom yang dapat ditetapkan fungsi, dan masih ada Q-menu andalan Fujifilm sehingga akses fungsi umum masih sangat baik. kami juga menyukai fakta bahwa X100F memiliki dial atas seperti X-Pro 2, dengan integrasi dial ISO ke dalam dial shutter selector, menjadikannya langsung dapat diakses.

Namun sesuatu yang baru adalah penambahan posisi “C” pada dial Exposure Compensation, memungkinkan Anda mengatur kompensasi cahaya lewat dial depan. Pengoperasian melalui cara ini memungkinkan Anda memiliki hingga ±5, ketimbang ±3 stop di dial.

Selain perbedaan fisik, salah satu yang menonjol di X100F (selain jumlah resolusi) adalah kamera ini lebih responsif. Tidak bukan karena prosesor baru, kamera  ini cukup cepat dan responsif, pada titik ini dapat kami sampaikan bahwa pengguna DSLR entry level mungkin tidak akan merasakan perbedaannya.

Otofokus berkinerja cepat dan responsif, dan meski tidak memiliki sistem AF-C yang ditingkatkan dari X-T2 dan X-T20, kami tidak memiliki masalah apapun mengikuti hewan atau kendaraan bergerak lambat. Kamera ini menggunakan lensa 23 mm f/2 seperti generasi sebelumnya, yang memiliki jarak proses minimal yang baik pada hanya 10 cm, artinya Anda bahkan dapat menggunakan X100F untuk memotret close up serangga atau bunga.

Perpaduan X processor Pro dan X-Trans CMOS II juga berarti bahwa X100F memiliki performa ISO lebih baik, dengan pengaturan ISO dasar dapat dilakukan hingga ISO 12.800, dengan ISO 25.600 dan ISO 51.200 juga tersedia sebagai pengaturan tambahan. Gambar yang diambil dengan ISO 25.000 masih sangat layak cetak, jadi tampaknya sekali lagi Fujifilm membekali performa setara ILC ke dalam bodi kamera saku premium.

Satu-satunya kekurangan kamera tersebut adalah harga. Dibanderol dengan harga Rp 20.099.000, X100F agak lebih mahal dibandingkan dengan pendahulunya. Dan meski fungsi teleconverter digital berfungsi dengan baik, dengan harga yang sama Anda bisa mendapatkan ILC dengan pilihan lensa yang menawarkan fleksibilitas lebih.