ASUS ZenFone Max Pro M1 vs Xiaomi Redmi 5 Plus: Pertarungan Fitur dan Harga


Pengantar dan Desain: ASUS ZenFone Max Pro M1

Pengantar

Seri Max di lini ZenFone disiapkan ASUS sebagai smartphone dengan kapasitas baterai besar berbanderol terjangkau di segmen harga mulai 3 juta-an perak ke bawah. Untuk menjangkau pasar lebih luas, tahun lalu ASUS menghadirkan dua model seri Max dengan embel-embel ‘Pro’ yang mengusung spesifikasi lebih tinggi dari versi non-Pro. Meski demikian, di setiap seri Max baru, ASUS selalu konsisten dengan kapasitas baterai maksimal di angka 5000 mAh dan chipset lebih rendah daripada seri ZenFone dengan segmen harga lebih tinggi.

Tapi itu berubah pada seri Max generasi ke-5 yakni ZenFone Max Pro M1 (ZB602KL) sebagai model tertinggi yang mengusung chipset Qualcomm Snapdragon 636. Sebuah langkah yang mengejutkan karena chipset kelas menengah terbaru Qualcomm tersebut juga diusung oleh seri ZenFone 5 yang hadir dengan banderol 4 juta-an perak. Kejutan tidak berhenti di situ karena ASUS membanderol seri ZenFone Max Pro M1 dengan harga flash sale sebesar Rp. 2.199.000 (Rp. 2.299.000 setelah flash sale). Alhasil, stok ZenFone Max Pro M1 habis dalam tempo hitungan detik setelah flash sale dibuka dan mempopulerkan istilah smarpthone gaib yang diragukan keberadaannya.

Strategi ASUS sejak masuk ke pasar smartphone tanah air adalah memuaskan pasar dengan perangkat berfitur premium dan harga terjangkau. Tapi strategi kali ini dengan tawaran harga agresif dan penjualan via flash sale membawa ASUS ke medan pertempuran yang hanya dikuasi oleh salah satu pabrikan smartphone asal China yakni Xiaomi. Sebuah medan pertempuran yang tidak banyak dijamah pabrikan besar termasuk ASUS sebelumnya karena mensyaratkan model bisnis berbeda. Bisa dibilang, ZenFone Max Pro M1 merupakan senjata andalan ASUS untuk mewujudkan ambisis besarnya menggulingkan Xiaomi.

Di segmen harganya saat diluncurkan, ZenFone Max Pro M1 unit uji kami yang hadir dengan konfigurasi RAM 3 GB dan media penyimpanan 32 GB berhadapan dengan Xiaomi Redmi 5 Plus. Maka dari itu, kami akan mengadu keduanya untuk menguak siapa yang tampil sebagai pemenangnya.

Desain

Seri Max kini tidak lagi mengunggulkan kapasitas baterai besar semata karena dengan chipset baru yang mumpuni, ASUS menawarkan pengalaman gaming memikat. Slogan “Limitless Gaming” sepertinya tidak terlalu muluk jika dilihat dari potensi daya tahan baterai panjang dan performa gaming unggulan berkat GPU Adreno 509 yang diklaim lebih unggul daripada pendahulunya. Apalagi dengan meningkatnya tren gaming mobile, ZenFone Max Pro M1 terlihat sebagai sebuah tawaran ideal bagi para gamer mobile. Tak tanggung-tanggung, ASUS langsung menghadirkan tiga model ZenFone Max Pro M1 dengan konfigurasi kapasitas memori dan media penyimpanan berbeda.

Harga peluncuran
  • Rp. 2.299.000
Sistem Operasi
  • Android 8.1 Oreo
Prosesor
  • Qualcomm Snapdrago 636 octa-core (Kryo 260 x8)
Memori
  • RAM 3 GB
Layar
  • 5,99 inci / 2160 x 1080 piksel (403 dpi) / aspek rasio 18:9
Kamera
  • Belakang: 13 megapiksel f/2.0 PDAF + 5 MP
 
  • Depan: 8 megapiksel f/2.2
Konektivitas
  • Wi-Fi 802.11 b/g/n 2,4 GHz, Bluetooth 5.0, GPS, AGPS, GLO, BDS
Tipe penyimpanan
  • Penyimpanan internal 32 GB
  • Bisa diekspansi hingga 2 TB (kartu microSD)
Baterai
  • 5000 mAh
Dimensi
  • 159 x 76 x 8,45 mm
Bobot
  • 180 gram

ZenFone Max Pro M1 mewarisi bahasa desain pendahulunya yang pertama kali muncul lini ZenFone 4 Max Pro dengan bagian sudut dan sisi membulat sehingga nyaman dalam genggaman tangan. Minimnya perubahan desain bisa dipahami karena tentu perlu biaya riset dan pengembangan untuk menghadirkan desain baru. Meski demikian, ASUS tetap menggunakan material metal pada bodi ZenFone Max Pro M1. Unit review kami dibalut dengan varian warna Midnight Black yang terlihat kebiruan sehingga membuat ZenFone Max Pro M1 sebagai salah satu ZenFone berpenampilan menarik.

ZenFone Max Pro M1 tampil beda karena hadir dengan aspek rasio layar yang sedang tren saat ini yakni 18:9 sehingga bodi tampak memanjang. Maka dari itu, meski mengusung layar 5,99 inci, ZenFone Max Pro M1 memiliki lebar bodi serupa smartphone berukuran 5,5 inci. Ukuran dimensi 159 x 76 x 8,45 mm dan bobot 180 gram terasa mantap dan solid saat digenggam. Mengusung kapasitas baterai lebih besar maka tidak heran jika ZenFone Max Pro M1 sedikit lebih tebal daripada Xiaomi Redmi 5 Plus. Tapi seperti seri pendahulunya yang memiliki bahasa desain serupa, permukaan ZenFone Max Pro M1 mudah dikotori oleh cap sidik jari.

Di sisi kanan bisa Anda temukan tombol volume dan daya, sedangkan akses baki kartu SIM dan kartu microSD berada di sisi kiri. Baki kartu SIM bukan jenis hybrid sehingga Anda bisa menggunakan dua kartu SIM dan sebuah kartu microSD sekaligus. Di sisi bawah, tersedia jack headphone 3,5 mm, port microUSB 2.0, dan dua rongga speaker.

Tidak tampak poni atau ‘notch’ di bagian atas layar yang sedang populer saat ini. Tidak ditemukan pula tombol fisik kapasitif di bagian muka karena telah berpindah ke dalam layar dan menjadi bagian dari antarmuka sistem operasi. Berbeda dari pendahulunya yang meletakkan sensor sidik jari di dagu depan, ZenFone Max Pro M1 menyematkannya di belakang. Sensor sidik jari yang tersedia fungsional meski bukan yang tercepat dibandingkan dengan sensor sidik jari yang pernah kami coba.

ASUS membekali ZenFone Max Pro M1 dengan konfigurasi kamera belakang ganda beresolusi 13 MP + 5 MP, f/2.2, lensa 25 mm, Phase Detection Autofocus (PDAF), dan flash LED yang disusun secara vertikal. Di depan, tersedia kamera selfie 8 MP, f/2.2, lensa 26 mm, tanpa flash LED. Baik kamera belakang atau depan menawarkan mode Portrait dengan efek bokeh pada hasil jepretan foto.

Layar dan Audio

Layar IPS 5,99 inci beresolusi FHD+ (2160 x 1080 piksel) yang diusung ZenFone Max Pro M1 memiliki sudut membulat dan bezel tipis di kedua sisinya. Layar dengan panel kaca melengkung 2.5D tersebut diklaim memiliki tingkat kecerahan tinggi mencapai 450 nit dan rasio kontras 1500:1 dan terbukti mampu terlihat jelas meski saat digunakan di luar ruang di bawah sinar matahari.

Layarnya terang dan menyuguhkan kontras memadai meski tidak bisa dibandingkan dengan OLED yang menjadi patokan layar unggulan. Tak tersedia fitur video unggulan seperti ruang warna DCI-P3 maupun dukungan konten video HDR, tapi bisa dipahami mengingat segmen harga yang disasar.

Audio pada ZenFone Max Pro M1 disuguhkan melalui speaker yang mengarah ke bawah di sisi bawah (dagu) smartphone. Unit speaker dilengkapi dengan 5 magnet dan digerakkan oleh amplifier NXP yang diklaim mampu menyuguhkan suara lebih kencang hingga 41 persen daripada pendahulunya. Saat pengujian, ZenFone Max Pro M1 menyuguhkan suara yang kencang dan jelas serta memadai untuk didengar jika tak sempat menancapkan headphone.

Software

ZenFone Max Pro M1 menjalankan sistem operasi Android Oreo versi standar. Artinya, tidak ada antarmuka ZenUI yang berjalan di atasnya. Bisa jadi, inilah salah satu cara ASUS untuk menekan ongkos produksi karena menghemat biaya riset dan pengembangan. Bagaimanapun, Android Oreo 8.0 yang diusung ZenFone Max Pro M1 tidak benar-benar standar sehingga tak heran jika ditemukan sejumlah aplikasi bawaan seperti perekam suara, kalkulator, radio FM, serta aplikasi sosial media semacam Facebook, Messenger, dan Instagram.

Di satu sisi, bagi para pengguna smartphone ASUS yang telah terbiasa dengan pilihan kustomisasi ZenUI akan sedikit kecewa. Tapi di sisi lain, pengguna yang menginginkan kebebasan pemilihan kustomisasi akan mengapresiasi Android versi standar tersebut. Untungnya, ASUS telah menyediakan pembaruan ke Android 8.1 walaupun patch keamanan masih tertinggal dua bulan dibandingkan versi Android One.

ZenFone Max Pro M1 sepertinya masih menampilkan Home screen serupa Android 7.0 Nougat dengan Google Search bar kotak memanjang bersudut lancip tidak membulat. Di bawah widget jam dan tanggal tersedia area lapang untuk menempatkan jajaran ikon dan/atau folder ikon aplikasi. Di bawahnya ada jeda yang ditandai dengan tanda caping atas untuk menunjukkan arah sapuan jari guna membuka app drawer. Kemudian disusul jajaran ikon aplikasi telepon, Messenger, Gmail, Chrome, dan kamera. Tiga tombol navigasi berada di bagian terbawah Home screen.

Fitur Android 8.1 Oreo lainnya bisa ditemukan seperti menekam tombol Home untuk memanggil Google Assistant, menekan beberapa detik area kosong pada Home screen untuk memunculkan pilihan kustomisasi wallpaper, widget, dan seting Home screen, serta tekan dua kali tombol daya untuk meluncurkan aplikasi kamera. ASUS juga menyematkan ZenMotion untuk mengaktifkan fungsi tertentu dan menjalankan aplikasi melalui gesture. Ketuk layar dua kali untuk memadamkan dan mengaktifkan layar, lalu sapukan huruf “W” dengan jari di atas layar untuk membuka browser web Chrome, dan sebagainya. Memanfaatkan ukuran diagonal layar yang besar, tersedia pula fitur split-screen sehingga Anda bisa menampilkan dua aplikasi secara sekaligus pada layar.

Selain sensor sidik jari, ZenFone Max Pro M1 menyediakan opsi keamanan lain berupa kemampuan pengenalan wajah (Face Recognition) untuk membuka smartphone. Tapi fungsi pengenalan wajah tidak berjalan saat layar dalam keadaan padam, sehingga Anda harus menekan tombol daya (atau ketuk layar dua kali jika gesture tersebut diaktifkan) agar fungsi pengejalan wajah bisa membuka akses smartphone. Proses membuka smartphone menggunakan pengenalan wajah tergolong cepat asalkan tersedia pencahayaan memadai.

Di antara aplikasi bawaan, ASUS tidak menyediakan aplikasi Gallery pada ZenFone Max Pro M1 sehingga hanya tersedia pilihan Google Photos. Bukan sesuatu yang buruk karena Anda bisa menikmati teknologi augmented reality (AR) Google Lens di Google Photos untuk mengenali dan mencari informasi tentang obyek gambar dalam foto. Cukup tekan tombol Google Lens di foto yang Anda ambil untuk mendapatkan informasi seputar obyek gambar tersebut dari internet.