Facebook Izinkan Netflix dan Spotify Baca Pesan Pribadi Pengguna


Facebook Izinkan Netflix dan Spotify Baca Pesan Pribadi Pengguna

Facebook sedang menjalani tahun yang kurang menyenangkan, bahkan hingga beberapa minggu menjelang akhir 2018, Facebook tampaknya belum bisa untuk bernafas lega. Artikel di New York Times mengungkapkan beberapa aspek tertutup dari kerjasama Facebook dengan raksasa teknologi seperti Apple, Amazon, Microsoft, Netflix, dan Spotify, menguak bukti mengkhawatirkan tentang bagaimana perusahaan jejaring sosial tersebut memberikan akses data pengguna kepada persahaan raksasa teknologi yang disinggung di atas.

Menurut New York Times, kerjasama tersebut tertuang di dalam ratusan halaman dokumen yang diperoleh koran harian tersebut. Dokumen tersebut dibuat di 2017 oleh sistem internal Facebook untuk kerjasama pelacakan, dan mereka menunjukkan bagaimana rekanan bisnis Facebook sepertinya terbebas dari aturan privasi.

Rentang akses sangat bervariasi, tapi salah satu contoh yang paling mengejutkan bisa jadi adalah Netflix, Spotify, dan Royal Bank of Canada dikabarkan bisa membaca, menulis, dan menghapus pesan pribadi pengguna. Mereka juga bisa melihat seluruh partisipan di dalam thread tertentu.

Akses pertama kali diberikan karena sebuah API yang diluncurkan di 2010 dan menjadi bagian upaya awal untuk membangun platform perpesanan. Itu sebelum Facebook Messenger lahir dan gagasannya adalah adanya integrasi dengan layanan yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Untuk kasus Spotify, artinya kemampuan mengirimkan lagu ke teman via jendela chat.

Spotify masih tetap memungkinkan Anda membagikan musik melalui Facebook Messenger, tapi Netflix dan Royal Bank of Canada tidak lagi membutuhkan akses karena fitur tersebut yang seharusnya tertanam di dalam pesan telah dimatikan. Namun Netflix dan Spotify mengatakan tidak mengetahui tingkat izin yang diberikan oleh Facebook, sedangkan bank Canada menolak adanya akses tersebut.

Selain itu, Apple bisa mengakses kontak dan informasi kalender pengguna Facebook, meskipun pengguna tidak mengaktifkan pembagian data. Kerjasama tersebut akan tetap ada, tapi seperti halnya Netflix dan Spotify, Apple mengatakan tidak mengetahui akses khussu tersebut dan lagi pula data tidak keluar dari perangkat pengguna.

Mesin pencari Microsoft Bing juga bisa melihat nama dan informasi profil teman pengguna. Microsoft menyampaikan kepada New York Times bahwa data pengguna tersebut digunakna untuk membangun profil pengguna Facebook di server Microsoft. Tujuannya adalah untuk pengembangan fitur dan bukan untuk iklan. Bagaimanapun, Microsoft menyampaikan telah menghapus data tersebut.

Akses Bing merupakan bagian dari program “personalisasi instan” Facebook yang telah dimatikan. Meskipun data yang digunakan pada program tersebut secara teknis seluruhnya bersifat publik di Facebook, masalahnya adalah Microsoft dan perusahaan lain yang terlihat, tetap mendapatkan akses setelah program tersebut dihentikan di 2014. d

Garis merahnya, Facebook memiliki cara berbeda dalam menghadapi privasi data, terutama setelah terungkapnya kebocoran data di sepanjang tahun ini. Facebook kurang teliti memutus akses setelah tidak diperlukan lagi sehingga meningkatkan peluang eksploitasi data. Selain itu, artikel The New York Times menggarisbawahi risiko berbisnis dengan Facebook karena para rekanan kini harus mempertahankan reputasinya dan penggunaan data tersebut.

Facebook telah merespon tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa kerjasama itu tidak melanggar privasi pengguna, tapi menyadari bahwa perlu upaya besar untuk mendapatkan kembali kepercayaan pengguna. Tidak ada bukti penyalahgunaan oleh para perusahaan rekanan, ungkap Facebook, dan beberapa perusahaan seperti Amazon, Microsoft, dan Yahoo telah menegaskan bahwa hanya menggunakan data sepantasnya.

Sumber: The New York Times

Semua Kategori Berita

Berita 12 Bulan Terakhir