Smart EDU Expo 2019 Bongkar Batasan Belajar Mengajar


Smart EDU Expo 2019 Bongkar Batasan Belajar Mengajar

Smart Education Expo 2019

 

Digelar bersama antara Digital Education Institute of the Institute for Information Industry (III) dan Taiwan Smart City Solutions Alliance (TSSA), Smart Education Expo 2019 menyuguhkan tema “Learning Without Borders”. Mengusung tema tersebut, Smart Education Expo 2019 berupaya mencari cara membangun lingkungan belajar, menjawab tantangan unik sekolahan di perkotaan dan pedesaan, serta mencari cara menghilangkan batasan aliran informasi dan menghilangkan batasan digital.

Visinya adalah menyediakan akses terhadap ilmu pengetahuan penting tanpa batasan dengan memanfaatkan pengembangan terbaru dalam teknologi pintar. Untuk gelaran tahun ini, ada lebih dari 100 profesional di bidang pendidikan hadir. Digelar pula pertemuan Smart Education yang menyuguhkan beberapa pembicara penting dari industri terkait. Topik diskusi meliputi tema tahun ini seperit di antaranya berbagi strategi berbeda dalam pengadopsian transformasi digital di ranah pendidikan untuk setiap negara, serta menjelajahi cara menciptakan lingkungan belajar yang kuat dan menyokong kesetaraan digital dan kualitas pendidikan.

Penyelenggara juga berkoordinasi dengan lebih dari 10 vendor Taiwan untuk memamerkan beberapa solusi lengkap terbaik yang bisa diaplikasikan pada tiga skenario kampus pintar yakni Smart Classroom, Smart Libraries, dan Interactive Smart Learning Cloud Services. Tujuannya adalah untuk menampilkan hasil kerja terbaik kepada khalayak lebih luas dan diharapkan mampu menjadi rujukan berharga bagi pejabat pemerintah di sektor pendidikan yang tertarik dalam mengembangkan kampus pintar.

Smart Education Expo 2019 berupaya menjajaki gagasan inovatif bagi pengembangan pendidikan masa depan. Maka dari itu, Smart Education Expo 2019 menginisiasi Education Forum bersama dengan dua Education Talks yang fokus pada Smart Campus Development dan STEAM Education. Education Forum menghadirkan jajaran panelis pembicara yakni Dr. Alexandros Papaspyridis, Direktur Solusi Industri Pendidikan Tinggi di Microsoft, Dr. Ali Ghufron Mukti, Direktur Jenderal Teknologi & Sumber Daya Pendidikan Tinggi, Dr. Riikka Lahtinen, Direktur Tampere LUMATE Centre, H.E. Dr. Bader Baneisa dari Kuwait, Dr. Vu Van Tich dari Vietnam, dan Dr. Somkiat Tangkitvanich, President fo Thailand Development Research Institute yang dimoderasi oleh Robert Ting, Vice President of Mitac Information Technology Corporation.

Delegasi dari Kuwait mengungkapkan bahwa Kuwait telah siap melakukan transformasi digital di dunia pendidikan sebagai bagian dari visi Kuwait untuk menjadi pusat finansial dan perdagangan dunia pada 2035. Upaya tersebut telah dimulai sejak 2013 dengan mengubah kurikulum dan melatih para guru. Teknologi juga tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan dengan menerapkan elearning pada murid usia dini yang di masa sekarang sudah terbiasa dengan perangkat mobile seperti smartphone dan tablet. Dunia pendidikan Kuwait telah memiliki perencanaan dan strategi yang jelas dan didukung oleh pimpinan pemerintahan.

Sementara untuk Indonesia, Dr. Ali Ghufron Mukti mengungkapkan bahwa dengan jumlah pulau mencapai 17.000 dan memiliki 4078 universitas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, maka dunia pendidikan di Indonesia mesti memilki tantangan tersendiri untuk meningkatkan angka akses pendidikan. Dunia pendidikan di Indonesia masih mencari cara untuk mengadopsi teknologi Internet of Things (IoT) dan hadirnya era Industri 4.0 yang sudah berjalan. Tantangan yang dihadapi bukan semata pengajar berusia lanjut yang khawatir digantikan oleh robot di ruang kelas, tapi juga perlu adanya persepsi baru. Menurut Ali, perlu adanya kreativitas, komunikasi, serta kolaborasi dalam dunia pendidikan. Antar mata pelajaran juga harus dihubungkan dengan hal lain di dunia nyata.

Delegasi dari Thailand mengungkapkan perlu adanya paradigma baru di dunia pendidikan. Sistem sekolahan saat ini tidak mampu mencetak siswa yang bisa bersaing di era digital saat ini dan mendatang di mana segala sesuatunya berubah dengan cepat. Separuh dari mata pelajaran dan keahlian yang diajarkan di sekolah sekarang tidak lagi berguna dalam satu dekade kemudian. Dengan demikian, siswa harus terus belajar, meskipun telah lulus dan masuk dunia kerja. Cara terbaik untuk membekali siswa adalah untuk memotivasi siswa untuk terus belajar, mempelajari hal baru. Dunia pendidikan harus mencari cara baru mengajar siswa di sekolah. Guru harus mendorong pembelajaran aktif dan mendorong pemikiran kritis.

Hal senada diungkapkan pula oleh Dr. Alexandros Papaspyridis dari Microsoft yang menyatakan bahwa depresiasi keahlian yang dipelajari disekolah memang menjadi tantangan, sehingga perlu adanya perubahan keahlian, baik keahlian yang halus maupun keras. Semua pihak atau pemangku kepentingan harus bertanggungjawab. Langkah Microsoft mengakuisisi Minecraft dan LinkedIn merupakan upaya berkontribusi terhadap pendidikan tinggi dan peningkatan karir. Microsoft tidak melihat Minecraft sebagai sebuah game semata, melainkan sebagai platform belajar untuk memperluas kreativitas dan keahlian terutama kode pemrograman.

Dr. Riikka Lahtinen, Direktur Tampere LUMATE Centre asal Finlandia menekankan pentingnya pembelajaran aktif dengan menempatkan siswa sebagai pusat di dunia pendidikan. Proses transformasi mesti dimulai dari guru dan menekankan pentingnya keahlian membaca.

Semua Kategori Berita

Berita 12 Bulan Terakhir